Sabtu, 12 Januari 2013

TAFSIR JALAIN



TAFSIR JALAIN


            Tafsir jalain dinisbatkan kepada dua dua Jalaluddin. Yakni Jalaluddin al-Mahali dan Jalaluddin al-Syuyuthi. Tafsir ini lahir pada abad ke sembilan atau sembilan tahun dari rasul hijrah. Dengan metodolagi Ijmali (global) tafsir ini sangat familier dengan pelajar pemula. Maka tidak aneh jika tafsir ini banyak digunakan di Pondok Pesantren Salafiyah, sebuah lembaga pendidikan yang ada di Indonesia dan termasuk lembaga nonformal. Lembaga ini lebih pada orientasi santri (pelajar) memiliki kemampuan membaca kitab gundul (tampa harakat). Tafsir Jalalain di Pondok Pesantren dipelajari kata demika oleh Kiai, sehingga memerlukan waktu yang sangat lama, tapi tidak mengecewakan, santri dapat membaca kitab ini setiap kata atau lafal.
            Tafsir dengan metodolagi ijmali, sumber ijtihad dan corak lughawi tetap eksis di Pondok Pesantren, bahkan para Kiai dan Santri tatkala membaca tafsir di masyarakat pasti yang menjadi pegangan tafsir Jalalain. Tidak hanya itu, ternyata tafsir ini dapat meng-inspirasi ulama setelahnya, seperti Sulaimanin bin Umar al-Ajili pada abad 10-11 mensyarahi tafsir ini dengan sebutan tafsir Futuhat al-Ilahiyah, tidak hanya Sulain ternyata Muhammad al-Shawi juga ikut juga mensyarahi kitab ini. Muhammad al-Syawi seorang ulama malikiyah ikut mensyarahi tafsir Jalain dengan sebutan tafsir Hasyiyah al-Shawi.
            Metode yang sangat akrab di mata pelajar yang digunakan oleh Jalalain, yakni metode ijmlai, suatu metode yang menggiring pembaca untuk menyadari al-Qur’an tidak parsial (terkotak-kotak), melainkan ayat yang satu dengan yang lain saling berhubungan, yang disebut munasabah ayat.
            Tafsir ini termasuk tafsir bi al-Ra’yi (logika). Dikatakan demikian karena dalam mengali sumber tafsir sudah menggunakan ijtihad, salah satu sumber penafsiran yang ditolak oleh Abu Bakar al-Shidik, dan disetujui oleh Ibnu Abas.
            Pelajaran yang dapat kita ambil dari perjalanan jalain adalah sebuah karya yang lahir di abad ke 9 eksis sampai sekarang, dan banyak yang menggunakannya. Hal salah satu pelajaran kepada kita, “bahwa” untuk menciptkan sebuah karya tidak perlu menunggu ispirasi yang menurut kita bagus, atau penomenal, melaikan berkaryalah walau menurut kita sederhana, sebab boleh jadi manfaatnya besar. Hal ini juga meng-ispirasi penulis untuk menulis sekecil apapun, dan sejelek apaun, yang penting bermanfaat.
                     

Tidak ada komentar:

Ceramah Maulud