Senin, 02 Desember 2013

BEKERJA



BEKERJA



A.    Definisi kerja
Dalam basa arab kerja dikatakan amal atau kasbi. Perbedaanya kalau amal identik dengan perbuatan, karenanya hubungan sosial dalam bahasa arab dikatakan muamalah. Sementara kata kasbi lebih menitik beratkan pada bekerja yang dapat mendatangkan keuntungan.   
Melihat dari pendekatan di atas kata kerja lebih dekat pada kata kasbi. Dalam al-Qur’an kasbi dipandang dapat menentukan hasil. Untuk itu setiap orang akan mendapatkan hasil sesuai dengan pekerjaanya. Sebagaimana firman Allah:
 

tiap-tiap manusia (kulum riin)terikat dengan apa yang dikerjakannya (bima kasaba rahinun). (at-Thur:21)

B.       Perintah Bekerja
Islam sangat tidak mengharapkan umatnya menjadi pemalas. Untuk itu dalam islam berkerja merupakan sebuah kegiatan yang dipandang mulia. Usman bin Hasan bin Ahmad al-Syakiri dalam salah satu karyanya, yaitu Duroh al-Nashihin, berkomentar; bahwa orang yang bekerja mulya di sisi Allah swt. Bekerja dipandang juga sebagai berjuang di jalan Allah (jihad fisabilillah). Tidak berlebihan jika ada orang meninggal di perjalanan bekerja meninggal difahami sebagai orang yang mati syahid di akhirat (fi akhiroh). Yakni di dunia wajib dimandikan dikafani dan dishalatkan, tetapi diakhirat mendapatkan pahala seperti orang mati syahid.
Banyak sekali isyarat teks al-Qur’an yang memerintahkan bekerja. Di bawah ini salah satu isyarat ayat tentang bekerja menjemput karunia Allah swt.  

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ
Faidza qudiyatis sholatu (apabila shalat telah dikerjakan) fang tashiru fil ardhi (bertebaranlah dimuka bumi) wabtaghu (carilah) ming fadhlilallah (dari karunia Allah)

Selain diperintahkan bekerja, Islam juga mengajarkan berkesinambungan dalam bekerja. Hal ini dapat kita tangkap dari Isyarat ayat:
    

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) (faiza farogh ta), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (fangshob),(alam Nashroh:7)

C.      Pertanggung Jawaban
Tanggung Jawab dalam Ilmu Budaya Dasar dikatakan berasal dari nurai (lub). Sementara kewajiban merupakan ketentuan yang harus dilaksnakan. Dengan demikian ketentuan yang sudah disepakati harus dapat dipertanggung jawabkan, yakni lahir sebuh komitmen dari dasar hati untuk melasanakan. 
Demikian juga dalam bekerja, seorang pekerja harus bertanggung jawab atas pekerjaanya, karena dalam Islam pekerjaan tidak hanya sebatas dunia, juga akan dipinta pertanggunan jawab di akhirat. Sebagaimana firman Allah:



Pada hari ini (al-Yauma) Kami tutup mulut mereka (nakhtimu ala afwahihim); dan berkatalah kepada Kami (watukalimuna) tangan mereka (aidihim) dan memberi kesaksianlah (watasyhadu) kaki mereka (kaki mereka) terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (bima kanu yaksibun). (Surat Yasin:65)






Kelembutan



Kelembutan
Keberhasilan dkwah Rasulallah selama 23 tahun, 13 tahun, di Mekkah, dan 10 di Madinah karena kelembutan hatinya. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an:

 

Maka disebabkan(Fabima) rahmat dari Allah-lah (rahmatim minalallahi) kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka(lingta lahum). Sekiranya kamu (laukungta) bersikap keras lagi berhati kasar(fadzan ghalidl qolbi), tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu(alng fadhu min haulika). (ali Imran:159)
Said Ahmad al-Dardiri, dalam salah satu karyanya, yaitu Qishoh al-Mi’rah, mengatakan bahwa sebelum Rasul diisrokan dan dimi’rajkan terlebih dahulu hatinya diisi dengan iman dan himah (kebijaksanaan). Kebijaksanaan melahirkan kelembutan dalam menghadapi berbagai persoalan. Hal ini tentu sangat urgen karena perjalan Isra’miraj itu perjalan sangat jauh dan waktunya sangat singkat melewati tiga dimensi alam, yaitu alam nasut, alam malakut dan alam lahut.
       Alam nasut adalam fisika, yaitu jarak masjidil haram sampai aqso. Alam malakut, yaitu alam maikat, yakni dari aqso sampai langit ke tujuh. Adapun alam lahut, yaitu alam ke-Tuhanan, yakni dari langit ke tujuh sampai ke sidrotul muntaha, mustawa, sampai arasy. Berbagai tamsil (contoh) dalam perjalan isro’mi’raj diketemukan, dan hanya bisa diterima jika dibekali iman dan kebijaksanaan.
       Berbicara kelembutan, sepertinya tidak akan ada habisnya. Selain teks al-Qur’an tentang keberhasilan dakwah Rasul dengan bermodalkan kelembutan, juga diketemukan juga pesan-pesan kelembutan dalam hadis. Banyak sekali hadis yang berbicara kelembutan, bahkan bukan hanya kelemubutan kepada orang yang baik dan telah berbuat baik kepada kita. Dalam islam kelembutan tidak dibatasi hanya kepada orang baik, orang jahat sekalipun harus diperlakukan sama (lembut). Di bawah ini hadis-hadis Rasul yang berbicara berbuat baik kepada orang jahat:
عقبة بن عامر قال لقيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لي يا عقبة بن عامر صل من قطعك وأعط من حرمك واعف عمن ظلمك
       Aqobah bin Amir berkata (qola) aku bertemu (laqitu) rasul saw dan dia berkata padaku (faqolali) wahai uqbah (ya uqbah) hubungkanlah kasih sayang (shil) pada seseorang (man) yang memutuskanmu (qotoaka) dan berilah (wa’thi) seseorang (man) yang mencegahmu (haromaka) dan maafkanlah (wa’fu) dari seseorang (am-man) dolim kepadamu (dholamaka) (hadis riwayat Husain bin Ahmad, dalam kitab Musnad Ahmad bin Hambal)     
  
Dalam hadis lain rasul juga bersabda
Shil man qotoaka (sambungkan orang yang memutuskanmu) wahsin (dan berbuat baik) man (kepada seseorang) asa’a (berbuat buruk) ilaika (padamu) wa qul haqo (katakan kebenaran) walau (sekalipun) alanafsika (atas dirimu).

Kesumpulan
Kelembutan merupakan modal kesuksesan. Bahkan Saikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nasho’ihul Ibad mengatakan mengatakan, jika ingin disayangi makhluk yang ada di langit maka sayangilah makhluk yang ada di bumi.
Untuk mengukur kelembutan, saikh Nawawi al-Bantani dalam Kitab Riyadhul Badiah, pada bab tasawuf, yaitu bab terakhir dari kitab tersebut mengatakan: belum dianggap bersikap lembut, kasih sayang jika memiliki binatang piaraan didholimi.

Minggu, 01 Desember 2013

FITRAH



FITRAH/FITROH

Fitrah merupakan sifat dasar manusia, karenanya seluruh manusia memiliki fitrah yang sama. fitrah sering juga disebut hati kecil, atau nurani. Pada tataran ini manusia tidak bisa berbohong, curang atau berbuat keji lainnya. Seorang filosuf Yunani bernama Plato berkomentar, bahwa manusia dalam kesendirian akan berkata benar, kenapa? Karena dalam kesendirian manusia akan berbicara fitrahnya.
Jika ingin melihat fitrah manusia, lihatlah bayi, karena balita akan berbicara jujur apa adanya. Untuk itu Islam mengatakan juga bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Fitrah jika menggunakan istilah fiqih adalah suci. Suci dalam artian fiqih benda suci tidak tercampur najis. Sementara fitrah dalam artian bahasa adalah suci dalam artian sifat dasar manusia. Fitrah juga sering dikatakan sifat ke-Tuhanan yang ada di dalam diri manusia.
Sesuai dengan sifatnya, fitrah itu murni, suci tidak tercampur dengan yang lain yang sifatnya tidak baik. untuk itu tidak berlebihan jika dalam Ilmu Budaya Dasar fitrah atau nurani menjadi tolak ukur kebenaran. Misalnya jika perbuatan itu baik maka manusia fitrahnya akan tentram. Hal ini berbeda jika manusia berbuat jahat maka fitrah manusia tidak akan tentram.
Jika dipetakan letak fitrah berada pada hati manusia yang paling dasar, setelah shudur, qalbun, fuad. Fitrah terletak pada lub. Yakni bagian hati yang paling dasar, dan sering mengeluarkan suara kebenaran. Fitrah dapat digali dengan cara perenungan, mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam dunia filsafat sering disebut kontenplasi, dan dalam dunia tasawuf disebut riyadoh.

Ceramah Maulud