Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label filsafat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 November 2013

Galau

Galau, madesu. Itulah yang sering menghatui manusia, apalgi anak muda yang hidup selalu banyak harapan. Namun harapan segudang dihantui dengan perasaan yang pesimis. Tidak jarang anak muda untuk menepis kondisi ini salah dalam penyaluran. Misalnya tidak betah di rumah, tawuran dan banyak lagi yang lainnya. 

Untuk menghilangkan pesimis, dan menumbuhkan optimis, sebainknya bergaul sama orang yang optimis, dan bisa menghargai orang lain. Jika tidak maka perasaan pesimis akan tumbuh subur menggrogoti semangat juang. Di sisi lain untuk menepis pesimis, bacalah buku sejarah orang kukses. Pada umumnya orang uskses hidupnya dimasa lalu penuh dengan penderitaan dan hinaan, tetapi karena gigihnya berjuang melawan segala penderitaan, semuanya berakhir dengan menyenangkan.

Rabu, 06 November 2013

TEORI DAN PRAKTEK

Orang sering berkata "Teori dengan praktek berbeda" Padahal teori adalah pengetahuan yang tersusun secara sistematis. Dalam kajian filsafat pengetahuan yang tersusun secara sistematis disebut ilmu.

Al-Imam al-Ghazali dalam salah satu karyanya, yaitu Minhaj al-Abidin, mengutif salah satu hadis "al-Ilmu imamul amal, wal amal tabiahu" (ilmu imamnya praktek dan praktek mengikuti ilmu). Dengan demikian orang yang berkata teori berbeda dengan pratek hemat penulis kurang tepat. Sebaiknya orang berkata, mempraktekan sebuah teori tidak semudah membalikan telapak tangan.

Boleh jadi juga, teori dengan praktek berbeda, jika teori yang dibaca/dimiliki tidak sama dengan yang dipraktekan. Misalnya, seseorang telah memiliki teori berenang, sementara yang dia praktekan membawa mobil. Ya jelas kalau seperti ini teori dan praktek berbeda. wasalam, sedikitit berfilosofis.    

Senin, 14 Oktober 2013

AKSIOLOGI


Aksiologi bagian dari filsafat yang mengkaji tentang nilai-nilai. Aksiologi mewarnai filsafat Islam. Dalam aksiologi yang selalu ditanyakan adalah untuk apa?. Misalnya untuk apa kita hidup, untuk apa kita ibadah, dan untuk-untuk yang lainnya.

Aksiologi sangat kental dengan filsafat Islam. Hal ini sejalan dengan Islam, karena segala yang dilakukan, diperintahkan dalam islam mengandung nilai ibadah.

EPISTEMOLOGI


Epistemologi bagian dari filsafat yang lebih mengakaji cara mendaptkan ilmu atau penegtahuan. Epistemologi lebih banyak digunakan pada filsafat modern. Pada tataran karya-karya Ilmiah yang ditayakan cara mendaptan bukan hasil. Misalnya bagai mana seorang guru dapat mempengaruhi peserta didik. Padahal sepintas lalu semua orang dapat berkata bahwa seorang guru dapat mempengaruhi peserta didik. Hal itu tidak ditanyakan pada dunia modern atau dunia akademik, yang ditanyakan adalah bagaimana hasilnya. Di sini tugas seorang peneliti membangun argumen tentang pengarh seorang guru terhadap peserta didik. 

Demikian juga seorang yang meneliti komentar mufasir. Misalnya, seorang mufasir berkomentar tentang boleh cerai yang dikatakan tiga kali sekaligus talaknya jatuh tiga. Nah, bagaimana seorang mufasir membangun sebuah argumen untuk menyatakan bahwa talak secara sekaligus tiga jatuh tiga. Begitu seterusnya. 

Di sisi lain, dengan mengetahu bagaimana cara mendapatakan sesuatu maka, kita dapat menangkap, apakah yang difahami oleh seseorang bersifat ilmu apa pengetahuan. Mengetahu ilmu dan pengetahuan dapat dilihat dari argumen yang dibangunnya. 

Dari Uraian di atas semoga mempermudah pembaca untuk memahami epitemologi yang merupakan bagian dari filsafat.

Minggu, 13 Oktober 2013

Hakikat, Ontologi


Dalam dunia filsafat tentu kita akan menemukan kata ontologi. Kata ontologi sangat kentel pada filsafat Yunani, karena filsafat Yunani lebih banyak membahas ontologi.

Ontologi adalah hakikat yang dikaji, yang selalu diawali dengak kalimat apa, dan apa. Misalnya apa hakikat ini, apa hakikat itu, dan seterusnya.

Dengan menggunakan kalimat apa? setidaknya kita berfikir mendalam, tentang yang kita kaji. Jika dulu sebelum belajar filsafat mungkin kita puas dengan melihat apa yang nampak. Namun berbeda cerintanya ketika kita sudah belajar filsafat. Orang akan banyak bertanya apa hakikat ini dan itu. Misalnya apa hakikat ilmu, apa hakikat hidup, dan apa hakikat semuanya.

Minggu, 06 Oktober 2013

Ilmu dan Pengetahuan

Dalam kajian filsafat antara ilmu dan pengetahuan jelas berbeda. Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara rasional dan sistimatis, sementara pengetahuan adalah sekedar orang tahu. Sebagai contoh ada orang yang tahu agama sebagai keharusan dalam hidup. Ada orang yang mengetahui agama secara mendalam dan sistimatis dari mulai definisi agama, sejarah lahirnya agama, perkembangan agama, dan untuk apa agama. Semunya diketahui secara rasional dan sistimatis, inilah pengetahuan yang sudah masuk pada wilayah pada keilmuan agama. 

Dalam keseharian kita juga sering dihadapkan pada wilayah pengetahuan dan keilmuan. Namun yang menyedihkan kebanyakan orang tidak menyadari mana wilayah pengetahuan, dan mana wilayah agama. Ironisnya lagi disamakan antara pengetahuan dan agama. Nampak jelas dalaman berfikir kita. 

Penulis tidak akan banyak berbicara dua perbedaan tersebut. Di sini penulis akan menjelaskan klasifikasi pengtahuan, dengan harapan dapat membantu para pembaca dalam memilah milah pengetahuan. 

Secara garis besar pengetahuan terdiri dari 3 
1. Pengetahuan sain, Pengetahuan ini bersifat empiris, yakni bisa diuji coba dan sifatnya netral. Misal, sesorang yang menanam biji salak akan jadi salak, di manapun, kapanpun, sekolah atau tidak. Hal ini dapat dilakukan secara berulang. 
2. Pengetahuan Filsafat, pengetahuan ini tolak ukurnya masuk akal. Terlihat atau tidak yang penting masuk akal.
3. Pengetahuan mistis, pengetahuan yang tolak ukurnya kenyakinan. Orang lain mau percaya atau tidak yang jelas pelaku menyakininya. Agama termasuk pengetahuan mistis. Artinya apa yang diyakini Islam tidak diyakini oleh orang di luar Islam. 


Sabtu, 05 Oktober 2013

Objek Filsafat

Objek Filsafat terdiri dari dua bagian; pertama objek material, yang kedua objek formal. Objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, menyangkut segala yang ada dan yang akan ada. Adapun objek formal adalah metode untuk memahami abjek material tersebut. Misalnya Tubuh manusia sebagai objek material, artinya sebagai sasaran dalam sebauh penyelidikan. Nah, untuk memahami tubuh manusia setiap disiplin ilmu memiliki cara pandang yang berbeda, dan cara pandang itulah disebut sebagai objek forma. 

Manusia (objek material), Ilmu kedoteran, Sosiologi, Psikologi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya akan melihat manusia dengan cara pandang yang berbeda, cara pandang itulah yang disebut objek formal. Sosiologi tentu akan melihat manusia sebagai makhluk sosial, sementara psikologi akan melihat manusia sebagai makhluk berjiwa dan seterusnya. 

Kaitannya dengan objek formal, setidaknya yang digunakan ada dua cara pendekatan; pertama pendekatan Induktif, kedua pendekatan deduktif. Pendektan Induktif adalah cara yang digunakan untuk mengambil sebuah pemahaman, dengan menggunakan berfikir dari hal yang kecil, melahirkan satu kesimpulan yang besar. Sebagai contoh, untuk menyimpulkan semua besi jika dipanasakan akan memuai, orang tidak perlu membakar atau menguji seluruh besi, melaikan cukup dengan menguji salah satu besi. Dengan menguji salah satu besi kemudian menyimpulkan keseluruhan, karena semua besi memiliki kesamaan sifat. Hal ini tentu berbeda dengan pendekatan Deduktif. Pendektan ini berbalik dengan pendekatan Induktif. Jika pendekatan Induktif dari yang kecil melahirkan sebuah kesimpulan yang besar, sementara pendekatan Deduktif merik kesimpulan yang kecil hasil dari mulai berfikir menyeliruh. Contoh, Manusia adalah akan mati, Zaid adalah manusia, zaid akan mati. 

Terlepas dari metode (objek formal) yang digunakan, yang jelas berfilsafat adalah berfikir secara mendalam. Dengan demikian objek filsafat material mencakup segala yang ada mencakup yang terlihat dan yang tidak terlihat, seperti yang telah penulis paparkan di atas.

    


Filsafat

Filsafat adalah berfikir secara mendalam dan rasional. Untuk itu orang yang berfilsafat tidak lekas merasa puas dengan melihat sesuatu yang nampak, tetapi dia ingin melihat sesuatu di balik yang nampak.

Ceramah Maulud